Mangapa disebut Lubang Buaya, Begini Sejarahnya

Fotowikipedia

RAGAMKARIMUN
| Jika berbicara Lubang Buaya, maka yang ada di pikiran kita adalah peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Yakni peristiwa G30S/PKI. Ya benar sekali kita akan selalu teringat akan peristiwa bersejarah tersebut. Namun apakah sahabat Ragam Karimun Sudah tau mengapa disebut lubang buaya. Apakah ada sangkut pautnya dengan hewan reftil.

Nama Lubang Buaya sebenarnya sudah ada sejak sebelum kejadian G30S/PKI. Lubang Buaya adalah sebuah nama jalan yang ada di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Asal mula disebut Lubang Buaya di kupas dari penelitian yang ditulis oleh Aqilah Afifadiyah Rahman dengan judul Menelisik Sejarah Penamaan Jalan Lubang Buaya dan Kaitannya dengan Peristiwa G30S. Tulisan ini dimuat di jurnal Local History & Heritage.

Dalam penelitian itu dikatakan, asal mula Lubang Buaya adalah nama sebuah jalan sekaligus kelurahan yang ada di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Di daerah itu dulunya ada sungai yang dipenuhi hewan buaya.

Akan tetapi di sana tidak hanya ada buaya yang tampak mata saja. Ada pula buaya tak kasatmata, yaitu siluman buaya putih.

Buaya-buaya gaib itu dapat diatasi oleh ulama yang bernama Pangeran Syarif atau Datok Banjir. Maka sejak itulah daerah tersebut dinamakan sebagai Lubang Buaya.

Selanjutnya, para warga yang ada di Lubang Buaya juga memanggil Pangeran Syarif sebagai Datok Banjir. Mereka yakin sosok tersebut punya kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Narasumber yang ada dalam penelitian ini menyebutkan, "Dulu pasukan Belanda yang mau nguasain daerah sini tidak berhasil berkat doa yang dipanjatkan beliau. Waktu itu, sepenglihatan pasukan Belanda, daerah Lubang Buaya terlihat seperti lautan sampai akhirnya tidak jadi menyerbu kawasan Lubang Buaya."

Daerah Lubang Buaya akhirnya jadi tempat pembunuhan dan pembuangan 6 perwira tinggi dan 1 perwira menengah TNI AD. Mereka adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen MT Haryono, Mayjen S. Parman, Mayjen R. Suprapto, Brigjen DI Pandjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Tendean.

LihatTutupKomentar